Berbagi info dan tips wisata dalam dan luar negeri. Semoga bermanfaat untuk teman-teman semua ^_^
Tampilkan postingan dengan label wisata yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Berwisata Keliling Waduk Sermo - Kulon Progo

Beberapa hari setelah lebaran, saya dan teman-teman alumni silaturahim ke rumah teman sekelas kami di daerah Hargowilis. Sepulang dari rumah teman, kami berwisata ke Waduk Sermo. 

Mengenai Waduk Sermo saya sudah pernah tulis di postingan sebelumnya.
Waduk Sermo yang memiliki luas sekitar 157 hektar ini mempunyai banyak spot menarik untuk dikunjungi.

Berikut ini beberapa spot wisata di pinggir waduk Sermo yang saya kunjungi.

Taman Munggur 
Berhubung kami datang dari arah rumah teman saya di Hargowilis, maka Taman Munggur adalah spot pertama yang kami singgahi. Kalau dari pintu masuk resmi waduk Sermo lokasi ini berada di paling ujung waduk Sermo tepatnya di Dusun Klepu, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap. Waktu saya kesana tidak ada penjaga loket masuk ataupun parkir. Jadi kami masuk ke area ini gratis saja. 



Di lokasi ini terdapat beberapa spot menarik untuk berfoto antara lain: perahu kayu dan pohon pandang.

Perahu Kayu
Selanjutnya Anda tinggal mengatur angle foto untuk mendapatkan hasil foto yang bagus dengan latar belakang waduk Sermo dan pebukitan Menoreh.




Pohon pandang di taman Munggur ini tidak terlalu tinggi jadi bagi Anda yang takut ketinggian tak perlu khawatir.

Pohon Pandang

Setelah cukup berfoto-foto di Taman Munggur kami menuju ke spot foto berikutnya, yaitu Taman Bambu Air.



Taman Bambu Air
Terletak di area dermaga II Waduk Sermo tepatnya di Dusun Sermo Tengah, Desa Hargowilis.  Disini terdapat dua spot foto yang menarik, yaitu Taman Bambu Air dan Bulan Sabit.



Taman Bambu Air merupakan sebuah taman terapung yang dibuat diatas tong plastik yang dirakit dengan rangka besi. Karena taman ini dibangun menggunakan banyak material bambu maka disebutlah Taman Bambu Air. Untuk menuju ke spot foto Taman Bambu Air kita harus naik perahu terlebih dahulu. Harga tiket untuk berfoto sekitar 10-15 ribu/orang (kalau ga salah ingat). 




Taman terapung ini terdapat berbagai properti yang akan memanjakan Anda untuk berfoto-foto, antara lain: kursi bambu, gapura yang bertuliskan "Taman Bambu Air Waduk Sermo", Caping/Topi Bambu, Sepeda Onthel, Lampu Petromaks, dll.




 Karena banyaknya pengunjung maka waktu untuk berfoto-foto di atas taman terapung dibatasi maximal 10 menit. Dan demi keamanan pengunjung,  jumlah orang yang berada di atas taman terapung ini dibatasi maximal 6 orang.





Selain spot Taman Bambu Air, kita juga bisa berfoto di spot bulan sabit.



Setelah selesai foto-foto di Taman Bambu Air kami melanjutkan ke destinasi berikutnya, yaitu Pesona Bukit Pethu.


Pesona Bukit Pethu
Terletak di pinggiran Waduk Sermo, masuk dalam wilayah Dusun Tegalrejo, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap. Spot wisata ini di kelola oleh karang taruda Dusun Tegalrejo.


 


Pesona Bukit Pethu memiliki 2 buah gardu pandang yang menghadap ke Waduk Sermo. Disini juga tersedia jasa fotografi jika Anda difoto dengan kamera DSLR oleh petugas anda dapat mendapatkan soft copy foto Anda dengan membayar 5ribu rupiah/pose foto.

Spot foto pertama yang kami pilih yang sebelah kiri dari pintu masuk. Kami berfoto tanpa menggunakan jasa fotografer. Harga tiket 10ribu (kalau tidak salah)



Untuk berfoto di atas gardu pandang ini kita tidak perlu memanjat tangga, hanya perlu melewati jembatan tali yang menghubungkan tepi danau dengan gardu pandang.





Setelah itu kami pindah ke gardu pandang kedua. Disini kami memakai jasa fotografi, siapa tau hasil fotonya lebih bagus. Disini gardu pandang berada di atas pohon dan tidak terlalu tinggi juga.



Pesona Bukit Pethu merupakan photostop terakhir kami, setelah itu melanjutkan perjalanan pulang ke Wates.

Selain spot foto di atas, Waduk Sermo juga memiliki spot lainnya diantaranya:
* Akar Liar
* Taman Pring Kuning
* Gumuk Sri Tinon
* Pulau Terapung
* Bukit Jangkang


      

Tebing Breksi - Prambanan

Beberapa waktu lalu ketika pulang dari membezoek salah satu family dari tetangga saya yang tinggal di Prambanan maka mampirlah kami ke Tebing Breksi. Berhubung drivernya sudah sering membawa wisatawan ke Tebing Breksi maka tak sulit kami menemukan lokasinya.

Tebing Breksi terletak di pedukuhan Nglengkong, Groyokan, Sambirejo, Prambanan pada awalnya adalah tempat penambangan batu kapur. Namun, sejak keluar hasil penelitian yang menyebutkan bahwa batuan kapur di lokasi ini merupakan endapan abu vulkanik gunung api purba Nglanggeran maka keluarlah larangan untuk melakukan penambangan batu. Kemudian kawasan ini dinyatakan sebagai cagar budaya dan harus dilestarikan.



Tebing Breksi menjulang setinggi kurang lebih 30 meter, merupakan tebing berwarna putih dengan berbagai ornamen di tebingnya.  




Beberapa pahatan tokoh wayang di dinding Tebing Breksi dipenuhi pengunjung yang ingin berfoto.





Ketika cuaca cerah, dari puncak Tebing Breksi maka Anda akan dapat meliat pemandangan ke segala arah. Di sebelah barat, kita bisa melihat Bandara Adisucipto dengan landasan pacunya, serta jalur kereta api. Di sebelah utara, kita bisa melihat gunung Merapi, gunung Merbabu dan Candi Prambanan. Di sebelah timur dan selatan, kita bisa melihat sungai, perkampungan penduduk dan pebukitan yang hijau.

Di bagian atas bukit juga terdapat beberapa spot foto, anda bisa berfoto dengna beberapa signboard yang Anda minati. Anda cukup memberikan sumbangan seikhlasnya.  



Di bagian pelataran Tebing Breksi terdapat Tlatar Seneng, merupakan tempat pertujukan seni dan budaya.


Tebing Breksi biasanya akan ramai wisatawan di akhir pekan atau hari libur sehingga bagi Anda yang hobby foto-foto terasa kurang leluasa karena banyaknya pengunjung.

Fasilitas yang terdapat di Tebing Breksi antara lain : tempat parkir, food court, toilet dan mushola.

Lokasi Tebing Breksi ini juga dekat dengan obyek wisata Candi Ijo dan Candi Barong yang lokasinya lebih ke atas bukit setelah Tebing Breksi.


Goa Kebon - Kulon Progo

Beberapa waktu yang lalu giliran arisan alumni di rumah kawan sekolah yang letaknya di Desa Cerme. Nah, rumah kawan saya ini dekat dengan lokasi Goa Kebon, jadi setelah selesai acara arisan kami pun beramai-ramai menuju kawasan Goa Kebon. 

Goa Kebon terletak di Dusun VII, Desa Krembangan, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Sekitar 15 km dari kota Wates, atau sekitar 25 km dari kota Yogyakarta. Sebenernya Goa Kebon sudah terkenal sejak saya masih kecil, walaupun begitu sampai saya sudah dewasa, merantau dan kemudian balik ke kampung halaman saya belum pernah pergi ke Goa Kebon. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah saya, ga sampai 5 km kali lah. So, alangkah senangnya akhirnya kesampaian juga melihat lokasi Goa Kebon yang sebelumnya hanya saya lihat melalui acara My Trip My Adventure. 

Memasuki kawasan Goa Kebon suasana asri dan sejuk oleh teduhnya pohon-pohon di sekitarnya. Oh ya tiket masuk kesini masih gratis, hanya perlu membayar uang parkir. Tersedia juga beberapa warung yang menjual minuan dan makanan ringan.

Dari lokasi parkir kita hanya perlu berjalan sedikit, jalanannya pun sudah rapi.


Dari jalan menurun ini terlihat Goa Kebon dengan air yang mengalir di bagian atas goa. 



Kenapa dinamakan Goa Kebon? Karena lokasinya berada di kebon/kebun. Oh ya, Goa Kebon ini bukan goa yang berbentuk terowongan bisa dilalui. Yang disebut goa kebon ini merupakan cekungan batu yang berada di bawah aliran air terjun. 



Air terjun setinggi 10 meter ini, mengalir seperti tirai yang menutupi batu berbentuk seperti payung. Jika musim penghujan tentu air lebih deras dan air terjunnya tampak lebih indah. Aliran air terjun ini tak pernah kering tetapi memang terkadang debit airnya kecil di saat musim kemarau.

Di sisi kiri air terjun terdapat jalan kecil yang bisa didaki jika ingin melihat aliran sungai di atas air terjun Goa Kebon.







Di area Goa Kebon ini juga disediakan spot-spot foto dengan frame berbentuk hati seperti berikut ini:





Rute untuk menuju Goa Kebon dari arah Kota Yogyakarta:
Setelah melewati jembatan Bantar (perbatasan Kulon Progo) dengan Kabupaten Bantul/Sleman, ikuti jalan yang menuju kota Wates, sampai ketemu Kantor Polres Kulon Progo (sebelah kanan jalan) dari sana masih lurus sekitar 400 meter, lalu  ada Jalan Kasatriyan, belok kiri. Lurus terus sampai ketemu SD N Jurangjero, tak jauh dari situ ada pertigaan, belok kiri. Ikuti jalan aspal yang menuju ke arah Cerme/Panjatan kurang lebih 5 km, nanti akan ketemu spanduk "GOA KEBON" belok kiri, ikuti jalan hingga sampai ke lokasi Goa Kebon.

Jalan-Jalan Siang di Kalibawang - Kulon Progo

Beberapa bulan yang lalu, diadakan arisan alumni teman sekelas SMK di rumah teman saya yang berlokasi di Kalibawang, Kulon Progo. Setelah selesai acara arisan kami pun berjalan-jalan di lokasi wisata yang tak jauh dari rumah teman saya. Kalau di Jakarta ada Ancol di Kalibawang juga ada Ancol, tetapi di Kalibawang ini obyek wisatanya berupa bendungan irigasi.

Bendungan Ancol Kalibawang
Berlokasi di Dusun Pantog Wetan, Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Bendungan Ancol dibangun pada masa penjajahan Jepang, antara tahun 1942 - 1945 atas gagasan dari Sri Sultan HB IX. 





Bendungan Ancol merupakan hulu dari Selokan Mataram, bendungan ini berfungsi sebagai pengatur debit air yang mengalir untuk irigasi lahan pertanian di wilayah Yogyakarta. Namun, saat ini lokasi ini juga menjadi salah satu tempat hunting foto para netizen. Karena bukan tempat wisata jadi tidak banyak fasilitas yang terdapat disini, bahkan masuk ke lokasi ini gratis. Rata-rata pengunjung kesini hanya sekedar melihat-lihat, foto-foto bahkan bagi yang hobby memancing bisa juga memancing di sini lho.




Setelah cukup melihat-lihat dan berfoto kami melanjutkan ke destinasi berikutnya, yaitu Embung Mini Banjaroya. 



Embung Waduk Mini Banjaroya Kalibawang
Berlokasi di Desa Wisata Banjaroya, desa wisata ini terletak di Jl. Sentolo - Muntilan, Kecamatan Kalibawang. Embung Waduk Mini Banjaroya berada di atas bukit, dari atas bukit ini kita bisa menikmati pemandangan sekitarnya, bahkan kalau cuaca cerah bisa melihat Gunung Merapi, Gunung Merbabu, dan daerah Muntilan.






Di sekitar embung ini juga terdapat beberapa gazebo yang dapat anda gunakan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan di sekitar.




Embung Banjaroya berfungsi untuk mengairi kebun durian Menoreh yang berada di sekitarnya. Tak heran jika di bagian depan embung ini terdapat icon durian Menoreh Kuning yang besar banget.




Di area embung Banjaroya ini juga terdapat pohon Durian Menoreh Kuning yang ditanam oleh Sri Sultan HB X.



Di embung ini juga dipelihara ikan nila (kalau tak salah), bagi Anda yang ingin memberi makan ikan bisa beli pakan ikan disini, harga sekitar 2 ribu rupiah.



Di sekitar Embung Banjaroya ini juga terdapat beberapa warung yang menjual makanan dan minuman.  

Selain Bendungan Ancol dan Embung Banjaroya, Desa Banjaroya ini juga memiliki beberapa obyek wisata antara lain :
1. Goa Maria Lourdes Sendangsono
2. Makam Kyai Krapyaktsani
3. Sendang Welas Asih
4. Kampung Banjaran 
5. Agro Durian Menoreh (Festival Durian Menoreh)

Berhubung waktu kami terbatas, jadi kami hanya mengunjungi dua destinasi wisata saja, semoga lain waktu bisa mengexplore obyek wisata lainnya. 

Berikut ini adalah peta wisata di Kalibawang, mungkin bisa jadi referensi untuk teman-teman semua. 





Jalan-Jalan Saat Transit Di Kota Jogja

Sedang transit di kota Jogja dan ingin jalan-jalan murah? Tentu bisa....bisa bangeet malah. Jadi gini, beberapa waktu lalu kami ada acara keluarga di Kulon Progo, berhubung ada anggota keluarga yang mempunyai jadwal terbang beda satu hari dengan keberangk saya, maka jadilah kami berangkat bareng dari Kulon Progo naik taksi tetangga saya. Itung-itung hemat tenaga dan uang daripada saya harus bolak-balik Jogja-Wates-Jogja, maka saya memilih untuk menginap saja di hotel dekat bandara Adisucipto. Setelah browsing nemulah saya alamat dan nomer telepon Hotel Bandara Asri (nanti saya tulis reviewnya dech). 

Sebelum ke Bandara Adisucipto saya minta taksi untuk mengantar ke hotel dan taruh barang bawaan saya di hotel.  Karena setelah selesai urusan di bandara saya berniat untuk jalan-jalan sore di kawasan Malioboro sekalian wisata museum gitu. Begitu urusan di bandara selesai, saya langsung menuju Shelter Trans Jogja dari Bandara Adisucipto, naik bus Jalur 1A lalu turun di shelter Malioboro 3 (Pasar Beringharjo/Benteng Vrederburg), lalu saya jalan kaki menuju ke Museum Sonobudoyo, tapiii sayang sekali, ternyata museum sudah tutup jam setengah empat. Jadilah saya..lanjutkan jalan kaki ke arah Jalan Rotowijayan ke museum Kereta Karaton, dan ternyata sudah tutup juga. hihihihi... 

Akhirnya saya jalan kaki ke kawasang cenderamata di jalan Rotowijayan, di kawasan ini berjejer toko yang menjual souvenier, batik dan kaos dagadu. Keluar masuk toko tapi ga nemu juga yang cocok, jadi yaa sekedar cuci mata aja dech. Tak lama kemudian saya memutuskan untuk balik aja ke hotel, takut kesorean dan bus Trans Jogja penuh. Dalam perjalanan menuju shelter Trans Jogja, ketika melewati alun-alun utara ternyata ada kuda yang sedang dilatih oleh pawangnya.  Skalian numpang selfie aah... hehehe...




Sampai juga akhirnya ke shelter Trans Jogja, dan rupanya ga penumpang ga terlalu ramai, dan masih kebagian tempat duduk. Saya turun di Shelter Jl. Solo (Maguwo) lalu jalan kaki menuju hotel. Sampai hotel setelah mandi sambil nonton tv ternyata berasa dech laparnya, jadilah saya pesan di restaurant hotel mie rebus jawa seharga tujuh belas ribu lima ratus rupiah. hihihi...lumayan...daripada harus keluar hotel lagi. Akhirnya makanan dataang.....

Selesai makan, sambil nonton TV langsung tidur sampe pagi... hihihi...

Pagi hari setelah selesai sarapan saya langsung berangkat ke Shelter Trans Jogja di Bandara Adisucipto untuk menuju Malioboro yang akan dilanjutkan jalan kaki ke Museum Sonobudoyo dan Museum Kereta Karaton Yogyakarta.  


Museum Sonobudoyo
Sekitar jam 8.20 akhirnya sampailah saya di Museum Sonobudoyo, harga tiket masuk tiga ribu rupiah saja, setelah membayar tiket dan mengisi buku tamu, saya dihampiri mbak-mbak yang menawarkan menjadi guide untuk melihat-lihat koleksi museum tapi saya tolak dengan halus. Sepertinya enakan jalan sendiri aja dech, jadi lebih leluasa untuk melihat-lihat koleksi museumnya. 



Museum Sonobudoyo adalah museum sejarah dan kebudayaan Jawa, termasuk bangunan arsitektur klasik Jawa. Museum ini menyimpan koleksi mengenai budaya dan sejarah Jawa yang dianggap paling lengkap setelah Museum Nasional Republik Indonesia di Jakarta (Museum Gajah).  Museum Sonobudoyo terdiri dari dua unit, unit 1 terletak di Jalan Trikora No. 6 (sebelah utara alun-alun keraton Yogyakarta), sedangkan unit 2 terletak di nDalem Condrokiranan, Wijilan, di sebelah timur alun-alun Keraton Yogyakarta.




Museum Sonobudoyo didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda oleh Yayasan yang bernama Java Instituut. Yayasan ini bergerak di bidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok. Panitia pendirian museum yaitu IR. TH. Karsten, P.H.W. Sitsen dan S. Koperberg. Bangunan museum menggunakan tanah bekas "Schauten" atau tanah hadiah dari Sri Sultan HB VIII. Peresmian dilakukan oleh Sri Sultan HB VIII pada tanggal 6 November 1935.

Koleksi Museum Sonobudoyo (unit 1 dan unit 2) terbagi menjadi 10 jenis, yaitu:
  1. Koleksi Numismatik dan Heraldika, obyek penelitiannya adalah mata uang/alat tukar yang sah, yang terdiri dari mata uang logam dan kertas. Heraldika adalah setiap tanda jasa, lambang dan pangkat resmi (termasuk cap dan stempel).
  2. Koleksi Filologi, benda koleksi yang menjadi obyek penelitian filologi, misalnya risalah kuno, tulisan tangan yang menguraikan sesuatu hal atau peristiwa. 
  3. Koleksi Keramologi adalah koleksi yang terbuat dari bahan tanah liat bakar berupa pecah belah, misalnya guci. 
  4. Koleksi seni rupa, koleksi seni yang mengekspresikan pengalaman artistik melalui obyek dua dimensi atau tiga dimensi. 
  5. Koleksi Teknologi. Benda atau kumpulan benda yang menggambarkan perkembangan teknologi.
  6. Koleksi Geologi, adalah benda yang menjadi obyek ilmu geologi, antara lain batuan, mineral, fosil dan benda-benda bentukan alam lainnya (permata, granit, andesit). Contoh: Batu Barit.
  7. Koleksi Biologi adalah benda yang menjadi objek penelitian ilmu biologi, antara lain tengkorak atau rangka manusia, tumbuh-tumbuhan dan hewan. Misalnya burung (obset) / dikeringkan.
  8. Koleksi Arkeologi adalah benda yang menjadi objek penelitian arkeologi. Benda tersebut merupakan hasil peninggalan manusia dari zaman prasejarah sampai dengan masuknya pengaruh kebudayaan barat misalnya : Cermin.
  9. Koleksi Etnografi adalah benda yang menjadi objek peneiitian ilmu etnografi, benda-benda tersebut merupakan hasil budaya atau menggambarkan identitas suatu etnis misalnya Kacip.
  10. Koleksi Historika adalah benda yang bernilai sejarah dan menjadi objek penelitian sejarah. Benda tersebut dari sejarah masuknya budaya barat sampai dengan sekarang, misalnya Senapan laras panjang, meriam. 
Saya hanya mengunjungi Museum Sonobudoyo Unit 1, jadi unit 2 mungkin di lain kesempatan akan saya datangi lagi, sekalian makan gudeg di wijilan kali ya. hehehe...

Oh ya, di depan bangunan Museum Sonobudoyo Unit 1 ini terdapat 2 buah meriam lho. Kedua koleksi meriam tersebut di atas berasal dari masa Sri Sultan Hamengku Buwana III. Sayangnya saya lupa untuk fotoin. hehehe...

Selain meriam terdapat pula arca dan relief. Berikut beberapa koleksi yang berada di halaman pendapa : Arca Dewi Laksmi, arca Mahakala, dan Makara.






 Sedangkan di bagian dalam pendopo terdapat seperangkat gamelan.



Museum ini memiliki beberapa ruang, diantaranya:

Ruang Pengenalan
Di atas pintu masuk menuju ke ruang pengenalan terdapat relief candrasengkala "Buta Ngrasa Esthining Lata". Ruang pengenalan berukuran 62,5 m2. Salah satu koleksi yang ada di ruang pengenalan yaitu pasren atau krobongan yang terdiri dari tempat tidur, bantal, guling, kasur, kelambu, sepasang patung loro blonyo, sepasang lampu robyong, dan sepasang lampu jlupak.




Ruang Prasejarah
Ruang ini menyajikan benda-benda peninggalan masa prasejarah yang menggambarkan cara hidup manusia pada masa itu meliputi berburu, mengumpulkan dan rneramu makanan. Pada tingkat selanjutnya manusia mulai bercocok tanam secara sederhana serta melakukan upacara- upacara yang berhubungan dengan religi (kepercayaan kepada roh nenek moyang, penguburan dan kesuburan).



Ruang Klasik dan Peninggalan Islam
Dalam penyajian koleksi dikelompokkan menjadi tujuh unsur kebudayaan universal yaitu:
1. Sistem Kemasyarakatan
2. Sistem Bahasa
3. Sistem Religi
4. Sistem Kesenian
5. Sistem Ilmu Pengetahuan
6. Sistem Peralatan Hidup
7. Sistem Mata Pencaharian Hidup 

Parung Kepala Dewa
Patung Kepala Dewa, dibuat dari perunggu berlapis emas. Ditemukan di Pathuk, Gunung Kidul, Yogyakarta pada tahun 1956. Sebagai lambang Dewa Budha.



Ruang Batik 
Di ruang ini memamerkan beberapa koleksi batik. Selain itu juga terdapat proses membatik yang dimulai dari pengerjaan pola sampai proses jadi sebuah batik. Di ruang ini saya suka sekali melihat aneka motif batiknya...bagus bagus banget... ^_^










Ruang Wayang
Sesuai namanya, di ruangan ini memamerkan aneka jenis koleksi wayang, diantaranya ada wayang kulit dan wayang golek serta gambar tata letak pementasan wayang kulit purwa klasik.






Ruang Topeng
Disini juga terdapat beberapa jenis topeng dari berbagai daerah. Topeng sudah mengalami sejarah perkembangan, bersamaan dengan nilai-nilai budaya dan nilai seni rupa. Topeng yang tampil dalam bentuk tradisional mempunyai fungsi sebagai sarana upacara dan pertunjukan.



Ruang Jawa Tengah 
Di ruang ini memamerkan ukiran kayu yang terkenal dari Jawa Tengah yaitu Jepara seperti gebyog patang aring. Selain itu terdapat keris dan senjata tajam lainnya dengan berbagai jenis. 





Ruang Emas
Museum Sonobudoyo merupakan museum yang memiliki koleksi artefak emas tapi dengan beberapa alasan belum dapat dilihat oleh umum.

Pada dasarnya artefak emas memiliki fungsi berbeda-beda, yaitu sebagai:
1. Mata uang
2. Perhiasan
3. Wadah
4. Senjata
5. Simbol religius, dll.

Di ruangan ini dipamerkan aneka koleksi perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari kuningan dan perak. Seperti: aneka bentuk ceret dan kendi, sendok makan, dll.










Ruang Bali
Diantara ruangan lain, ruangan ini paling istimewa, karena terdapat lampu warna biru yang byar pet gitu. hehehe...
Koleksi ruang Bali berkaitan dengan kebudayaan Bali baik mengenai yadnya (upacara) maupun berbentuk seni lukis dan seni pahat. Di bagian terpisah terdapat Candi Bentar.

Di bagian luar Ruang Bali terdapat Candi Bentar, di dalam komplek candi Bentar biasanya terdapat Bale Gede, yang berfungsi sebagai tempat upacara daur hidup dan untuk bermusyawarah.







Ruang mainan
Di sini dipamerkan koleksi aneka mainan tradisional dan foto-foto anak-anak yang sedang memaikan permainan tradisional.




Setelah merasa cukup puas berkeliling museum Sonobudoyo, saya melanjutkan perjalanan berikutnya ke Museum Kereta Keraton Yogyakarta dengan berjalan kaki. Yuk, ikuti cerita selanjutnya.


Museum Kereta Karaton Ngayogyakarta 
Museum ini terletak di Jalan Rotowijayan, bisa ditempung dengan berjalan kaki dari Museum Sonobudoyo unit 1. Harga tiket masuk lima ribu rupiah, ditambah tiket ijin foto seharga seribu rupiah.



Museum ini khusus menampung kereta-kereta kuda keraton pada masa Kerajaan Yogyakarta era Sri Sultan Hamengku Buwono ke-8. VIII.
Museum kereta keraton ini memiliki 18 kereta, setiap kereta memiliki nama masing-masing, diantaranya:
1. Kereta Nyai Jimat, 
2. Kereta Kyai Garudayaksa, 
3. Kereta Jaladara, 
4. Kereta Kyai Ratapralaya, 
5. Kereta Kyai Jetayu, 
6. Kereta Kyai Wimanaputra, 
7. Kereta Kyai Jongwiyat, 
8. Kereta Kyai Harsunaba, 
9. Kereta Bedaya Permili, 
10. Kereta Kyai Manik Retno, 
11. Kereta Kyai Kuthakaharjo, 
12. Kereta Kyai Kapolitin, 
13. Kereta Kyai Kus Gading, 
14. Landower Kereta, 
15. Kereta Surabaya Landower, 
16. Wisman Landower Kereta, 
17. Kereta Kyai Puspoko Manik 
18. Kereta Kyai Mondrojuwolo. 

Kereta-kereta tersebut mempunyai fungsi masing-masing, dan penggunaannya selalu dipilih berdasarkan acara yang akan diselenggarakan.  Beberapa foto terpasang di dekat lokasi kereta Keraton. Jadi kita juga bisa lihat kereta ini dipakai di acara apa gitu.




Oh ya, kereta-kereta ini buatan Eropa lho, diantaranya Jerman dan Belanda. Bahkan sebagian besar kereta-kereta ini masih asli, belum tersentuh modifikasi meski sebagian sudah mengalami modifikasi baik dalam warna cat maupun interiornya.

Terdapat beberapa kereta yang dikeramatkan, karena keistimewaan bahannya yang terbuat dari emas dan merupakan kereta Raja yang disebut sebagai kereta Kencana, bahkan sebagian kereta mungkin memiliki cerita mistis, makanya jangan sembarangan ya saat berada di tempat ini. 

Saya paling suka kereta ini nich...keren dan elegan banget...



Jenis-jenis kereta di Museum Kereta Keraton:
1. Kereta atap terbuka dan beroda dua, contohnya:  Kereta Nyai Kapolitan


2. Kereta atap terbuka dan beroda empat, contohnya: Kerata Kyai Jongwiyat dan Landower. Oh ya saya sempat dengar kalau Landower ini berasal dari istilah dalam bahasa Inggris Land Owner (Tuan Tanah/Raja).




3. Kereta atap tertutup dan beroda empat. Kereta ini termasuk kereta yang mewah dan sakral, contohnya: Kereta Kanjeng Nyai Jimad, Kyai Garudayaksa dan Kyai Wimanaputra.



Kereta Kanjeng Nyai Jimad ini merupakan kereta tertua, telah berada di sini sejak tahun 1750. Kereta ini merupakan buatan Belanda. Bentuknya unik dan sangat indah seperti layaknya kereta Cinderella. Di bagian depan bawah kereta ini terdapat patung wanita menyangga kereta ini dan terdapat untaian bunga yang mengalunginya.

Ada juga kereta Premili, di dalam kereta ini terdapat 4 baris kursi yang saling berhadapan, kereta ini berfungsi untuk membawa para penari keraton yang berjumlah sekitar 16 orang.


Di dalam museum ini juga terdapat beberapa patung kuda, koleksi pakaian dan perlengkapan kusir kereta kuda, dan foto-foto acara dimana kereta ini dipakai oleh Keluarga Keraton Yogyakarta. 







Di bagian luar museum di halaman sebelah utara juga terdapat kandang kuda yang dihuni beberapa ekor kuda. Berikut beberapa suasana di halaman museum..



Sekitar jam setengah sebelas saya keluar dari Museum Kereta Keraton lalu jalan kaki ke shuttle Trans Jogja di jalan Malioboro. Seperti sebelumnya, saya turun di shelter Jl. Solo - Maguwo lalu mampir makan siang di warung padang dulu, baru lanjut jalan kaki ke toko oleh-oleh Bakpia 25. Nah, disini saya coba beli varian baru bakpia 25 yaitu bakpia isi ubi ungu, enak juga lho rasanya. Sampai di hotel sekitar jam 12an, saya beres-beres barang bawaan dan sekitar jam 12.30 saya ke front office untuk nyerahin kunci kamar, dan request pengantaran ke bandara diundur jadi jam 2 saja. Males kelamaan di bandara ga bingung mau ngapain secara flight saya masih jam 16.10. Akhirnya jam 2 tepat saya minta diantar ke bandara, rupanya counter Air Asia sudah buka, jadi langsung aja check in dan masuk ke boarding roam. Selamat tinggal Jogjakarta....ke Jakarta aku kan kembaliiii......

Demikianlah...field report jalan-jalan saya saat transit di kota Jogja...mungkin bisa menjadi referensi buat teman-teman yang akan transit di kota Jogja.